Connect with us

Hukum & Kriminal

Laporan Dugaan Korupsi RSUD Dr Soegiri Dicabut, KPK Lanjutkan Penyelidikan

Diterbitkan

||

Laporan Dugaan Korupsi RSUD Dr Soegiri Dicabut, KPK Lanjutkan Penyelidikan

Memontum Lamongan – Publik Lamongan menanti-nanti penyelesaian sejumlah kasus yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut data wartawan koran ini menyebutkan, sedikitnya ada 12 laporan dugaan korupsi di Lamongan yang masuk ke meja KPK. Jumlah itu baru laporan dari satu lembaga, dalam kurun waktu 2012-2018. Artinya, tidak menutup kemungkinan adanya lembaga lain yang juga melapor ke KPK.

Menurut sumber data yang dikantongi wartawan media ini menyebutkan, laporan dugaan korupsi di RSUD Soegiri Lamongan telah dicabut. Namun apakah hal itu menghentikan KPK untuk melakukan penyelidikan? Kenyataannya tidak.

Direktur RSUD Dr. Soegiri Lamongan, Muh. Chaidir Annas saat berdampingan dengan mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Soegiri, Pujo Broto Iriawan

Direktur RSUD Dr. Soegiri Lamongan, Muh. Chaidir Annas saat berdampingan dengan mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Soegiri, Pujo Broto Iriawan

Berdasarkan salinan surat pencabutan yang diterima diketahui, laporan sejumlah kasus dugaan korupsi di RSUD Dr Soegiri Lamongan telah dicabut pada Juni 2018. Pencabutan itu dilakukan oleh ketua salah satu LSM yang melaporkan kasus ini. Faktanya, KPK masih terus mengembangkan kasus dugaan korupsi di rumah sakit pelat merah ini.

Hal itu diperkuat fakta dengan diperiksanya sejumlah pejabat RSUD Soegiri Lamongan pada Agustus 2018, atau dua bulan pasca pencabutan laporan. Pejabat yang diperiksa KPK itu adalah Direktur, Wakil Direktur dan panitia pengadaan barang jasa di RSUD Soegiri. Mereka adalah Ketua Panitia berinisial SA, Sekretaris Panitia berinisial IES dan anggota berinisial ATR.

Masih dikembangkannya kasus dugaan korupsi di RSUD Dr. Soegiri Lamongan ini dibenarkan oleh tim penyelidik KPK, yang dihubungi wartawan koran ini melalui pesan Whatsapp. Menurut dia, penyelidikan kasus ini masih berjalan dan terus dikembangkan. Hanya saja, ia tak bisa merinci sejauhmana ini.

Lantas, bagaimana respons pejabat RSUD Soegiri Lamongan? Beberapa pejabat yang dihubungi wartawan koran ini memilih bungkam. Direktur RSUD Soegiri Lamongan, Muh. Chaidir Annas yang dihubungi melalui pesan whatsapp hingga dua kali tidak bersedia menjawab, Senin (14/10/2019).

Sementara, mantan Direktur RSUD, dr. Taufik Hidayat yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Lamongan justru melempar bola kepada Annas.

“Pangapunten, saya sekarang tidak di RSUD, tapi di Dinkes. Direktur RSUD dr. Annas saja,” kilahnya.

Setali tiga uang, mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Soegiri, Pujo Broto Iriawan juga memilih bungkam. Pria asal Kecamatan Deket ini tak menjawab sepatah katapun saat dikonfirmasi wartawan koran ini melalui pesan whatsapp.

Sebelumnya, KPK menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor: Sprin.Lidik-74/01/05/2018, tertanggal 4 Mei 2018. Selanjutnya KPK mulai memanggil dan memeriksa para pejabat RSUD Soegiri Lamongan sejak Agustus 2018, di Kantor BPKP Perwakilan Jawa Timur. Adapun perkara yang diselidiki adalah kasus dugaan gratifikasi terkait pengadaan barang jasa di RSUD Soegiri Lamongan mulai 2012-2017. (dc/zen/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Bermodal Benda Pusaka, Warga Sarirejo Makan Korbannya, Gondol Rp 450 Juta

Diterbitkan

||

Bermodal Benda Pusaka, Warga Sarirejo Makan Korbannya, Gondol Rp 450 Juta

Memontum Lamongan – Abdul Ghofur, asal Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, kini harus merasakan pengapnya sel tahanan Polres Lamongan, setelah melakukan penipuan hingga kurang lebih sebesar Rp 450 juta. Modus yang digunakan Abdul Ghofur adalah dengan mengiming-imingi korban dengan mengaku bahwa Ia bisa menggandakan uang.

Korban yang masuk kedalam perangkap tersangka Abdul Ghofur adalah pria berinisial UW, asal Kecamatan Mantup. Aksi penipuan yang dilakukan Ghofur bermula pada Februari 2019 lalu. Saat itu korban yang ingin mendapatkan uang, diperkenal oleh temannya kepada Gofur. Saat itu Ghofur memberikan 5 butir berlian kepada korban, dengan biaya Rp 5.700.000.

“Setelah itu berlian dibawa pulang, setelah dicek ke ahli berlian, ternyata berlian itu palsu. Kemudian korban mengembalikan berlian itu, tapi Ghofur bilang berlian itu akan disempurnakan, pada saat bersamaan, korban diberikan 10 lempeng emas. Atas pemberian emas itu, korban harus memberi uang Rp 21 juta,” kata Kapolres Lamongan, AKBP Harun, menjelaskan kronologi penipuan tersebut, pada saat rilis di Mapolres Lamongan, Senin (17/2/2020).

Kemudian korban membawa emas batangan tersebut ke pegadaian, namun ternyata emas tersebut juga palsu. Korban pun datang lagi ke tersangka di Sarirejo, untuk menyerahkan emas palsu tersebut, tapi tersangka kembali mengatakan kepada korban bahwa akan disempurnakan lagi.

Saat itu tersangka juga memberikan beberapa benda pusaka, berupa 2 keris, pecut kuningan, tongkat komando kuningan dua buah, kujang kuningan dua buah dan cakar elang kuningan.

“Saat itu, tersangka juga mengatakan bahwa barang-barang itu akan jadi uang, dan korban dimintai uang lagi sebesar Rp 50 juta. Pada saat itu juga korban diberikan samurai, yang kata tersangka bisa membuka kotak harta, dan korban harus memberi uang Rp 45 juta,” ucap Harun.

Tak cukup sampai di situ, tersangka juga meminta korban membeli 6 burung cucak rowo dengan harga Rp 50 juta. Kemudian tersangka mengajak korban ke Sumedang, menemui tersangka lain, yaitu AY (saat ini masih diburu polisi).

Di Sumedang itu, korban diminta untuk menyerahkan uang lagi dan diberi satu karung putih yang disampaikan bahwa didalam karung itu akan jadi uang kertas rupiah. Namun tersangka mengatakan bahwa karung itu tidak boleh dibuka sebelum 40 hari dan harus mendapatkan burung gagak bermata hitam, biru dan merah.

“Untuk mendapatkan burung gagak itu, korban juga diminta uang Rp 36 juta. Kemudian juga meminta uang untuk bangun musholla, Rp 94 juta. Tapi setelah karung itu dibuka, ternyata isinya daun pisang kering, bukan uang, kalau ditotal seluruh kerugian korban kurang lebih Rp 450 juta,” tutur Harun.

Sementara itu, tersangka Ghofur mengaku benda-benda pusaka tersebut sebagian Ia beli dan sebagian merupakan peninggalan istrinya.

“Ada yang peninggalan dari istri yang sudah almarhum. Istri dulu pekerjaannya terapi orang yang sakit,” kata Ghofur. Lebih lanjut Ghofur mengatakan, modus penipuan tersebut Ia lakukan secara spontan, tanpa belajar maupun meniru dari orang lain.

“Enggak (belajar), ya saya sampaikan secara tiba-tiba aja,” ucap Ghofur, yang juga menambahkan bahwa Ia baru pertama kali melakukan penipuan. Menurut pengakuan Ghofur, Ia nekat melakukan penipuan tersebut karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar.

“Karena ingin mencari keuntungan pak. Kita juga nggak memaksa, tapi waktu itu korban memang mau,” tuturnya.

Akibat perbuatannya, Abdul Ghofur harus merasakan pengapnya sel tahanan Polres Lamongan dan dijerat dengan pasal 378 dan 372 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 4 tahun penjara. (aju/zen/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pembunuhan Hj Rowaini Direkonstruksi, si Anak Tiri Peragakan 23 Adegan

Diterbitkan

||

Pembunuhan Hj Rowaini Direkonstruksi, si Anak Tiri Peragakan 23 Adegan

Memontum Lamongan – Polres Lamongan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Hj Rowaini di tempat kejadian perkara (TKP) lokasi kejadian, Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. Oleh Tim Jaka Tingkir Satreskrim, Rekonstruksi dilakukan di dua lokasi sesuai dengan kejadian perkara yatu di warung milik tersangka Imam Winarto selaku eksekutor dan di rumah korban (Hj Rowaini.red).

“Totalnya ada 23 adegan sesuai dengan pengakuan dan yang diperagakan oleh tersangka,” kata Kapolres Lamongan, AKBP Harun, Rabu (12/2/2020).

Lebih lanjut dijelaskan AKBP Harun ketika menyaksikan adegan pertama yang dilakukan di warung milik tersangka Imam Winarto, saat itu tersangka Sunarto selaku otak pembunuhan datang ke warung milik Imam Winarto untuk meminta bantuan untuk melakukan pembunuhan terhadap korban.

“Bermula dari obrolan serius oleh kedua tersangka di warungnya Imam Winarto, kemudian menuai kesepakatan jika Imam Winarto bersedia melakukan pembunuhan terhadap korban,” ujarnya.

Tak hanya itu, dibeberkan AKBP Harun, pasca rekonstruksi pertama yang dilakukan di warung milik Imam Winarto kemudian dilanjutkan ke rumah korban yang berada di sebelah selatan warungnya yang berkisaran 150 Meter.

“Tepat di lokasi (rumah korban.red), tersangka Imam Winarto kemudian memperagakan berbagai adegan, berawal dari cara tersangka Imam Winarto masuk ke rumah korban melalui pintu belakang, selanjutnya berpura-pura menyerahkan uang kepada korban Nahasnya, tepat reka adegan yang ke enam dan ke tujuh, Imam Winarto langsung menghabisi nyawa korban yang diperagakan oleh salah satu anggota Polwan,” bebernya menjelaskan.

Tepat berada di adegan yang ke enam, AKBP Harun menambahkan, Imam Winarto langsung menusukkan pisau ke leher korban sebelah kiri sebanyak dua kali.

“Sedangkan pada adegan ketujuh, Imam Winarto juga menusukkan pisau ke leher korban sebelah kanan sebanyak satu kali. Mengetahui korban sudah meninggal dunia, kemudian tersangka mengambil Hanphone merk Samsung milik korban kemudian untuk Handphone jenis Nokia dibuang ke selokan,” ujarnya.

Lebih lanjut AKBP Harun menegaskan, saat gelar rekonstruksi penyidik sudah tidak menemukan fakta baru dalam kasus pembunuhan berencana yang didalangi oleh anak tiri korban.

“Semantara ini terkait penemuan hasil pengembangan yang baru masih belum ada namun kasus ini masih kami dalami lagi. Sampai saat ini motifnya masih sama. Yang jelas untuk eksekutor menurut pengakuanya karena terlilit hutang, sedangkan untuk otaknya itu didasari sakit hati, alasanya, khawatir dengan kondisi keluarganya,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakan AKBP Harun, nanti pasca proses rekonstruksi dilakukan, berkas perkara pembunuhan terhadap korban akan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan.

“Yang jelas secepatnya segera akan kami limpahkan ke Kejaksaan kalau dirasa berkasnya sudah cukup dan tidak ada lagi tambahan dan keterangan lain yang perlu kembangkan,” Pungkasnya. (Aju/zen/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Tersangka Pembunuh Mertua Sekda Lamongan Mengaku Sakit Hati ke Korban

Diterbitkan

||

Tersangka Pembunuh Mertua Sekda Lamongan Mengaku Sakit Hati ke Korban

Memontum Lamongan – Polres Lamongan ungkap otak pembunuhan ibu Hj Rowaini, mertua Yuhronur Efendi. Dari pengakuan tersangka Sunarto, dia mengaku sakit hati kepada korban, karena dianggap sebagai orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga ibu tersangka. Menurut tersangka, tindakan biadab yang dilakukannya, karena kehadiran korban, Hj Rowaini kerap membuat kehidupan rumah tangga ibu tersangka kurang harmonis. Bermula dari situ, akhirnya Sunarto merencanakan pembunuhan terhadap korban.

“Saya sakit hati mas. Karena Hj Rowaini sering menganggu kehidupan ibu saya. Sedangkan korban juga menikah dengan bapak saya,” akunya, Selasa (11/2/2020).

Sementara itu, Imam Winarto mengaku menyesal atas perbuatan yang dilakukan dan pihaknya juga meminta maaf kepada keluarga korban.

“Kami sangat menyesal dan minta maaf kepada keluarga korban atas perlakuan saya, dan saya menyesal,” katanya dihadapan petugas.

Kronologisnya, didasari sakit hati yang mendalam, dia memiliki niatan jahat untuk menyewa pembunuh bayaran yakni Imam Winarto dengan iming-iming imbalan uang sebesar Rp 200 juta. Akhirnya kedua pelaku mengadakan pertemuan di warung makan milik Imam untuk merencanakan aksinya.

“Dari pengakuan tersangka, Sunarto mengajak Imam Winarto bertemu di warung untuk merencanakan aksi pembunuhan terhadap korban,” ujar Kapolres Lamongan AKBP Harun kepada awak media melalui konferensi persnya di halaman Mapolres Lamongan.

Selain itu, AKBP Harun membeberkan, pasca menggelar pertemuan di warung untuk memuluskan aksi kejahatanya, akhirnya kedua pelaku berinisiatif membunuh korban dengan cara diberi racun.

“Saat itu, bertepatan Imam Winarto tidak mempunyai racun. Kemudian kedua pelaku mencari alternatif lain untuk menghabisi nyawa korban,” bebernya. Namun, kata AKBP Harun, terkait aksi pembunuhan terhadap korban jauh sebelumnya sudah direncanakan oleh kedua pelaku sekitar dua bulan.

“Usai direncanakan selama dua bulan, tepat hari Jumat (3/1/2020) akhirnya pelaku menggencarkan aksinya untuk membunuh korban,” katanya.

Dijelaskan lebih lanjut, AKBP Harun menyebut sebagai eksekutor, Imam Winarto membunuh korban dengan cara menusuk leher korban sebanyak tiga kali, dua di bagian leher kiri dan satu di leher kanan. Naasnya, pisau yang digunakan membunuh korban patah di bagian gagangnya.

“Pelaku masuk ke dalam rumah korban melalui pintu belakang untuk menjalankan aksinya hingga akhirnya merenggut nyawa korban,” kata AKBP Harun. Setelah korban dipastikan meninggal, kata AKBP Harun, pelaku mengaku menyempatkan mencuci tangan di wastafel dan menutup tirai jendela rumah korban.

“Kedua pelaku langsung kabur ke wilayah Babat. Saat itu pisau yang digunakan pelaku untuk membunuh korban langsung dibuang di drum dekat rumah korban untuk menghilangkan jejak. Pelaku langsung melarikan diri, tapi beberapa hari kemudian sempat kembali ke rumahnya,” pungkasnya.

Dijelaskan lebih lanjut, AKBP Harun mengungkapkan, tersangka Imam Winarto dijanjikan imbalan sebesar Rp 200 juta oleh tersangka Sunarto, jika berhasil melakukan tugasnya.

Selaku eksekutornya, jelas AKBP Harun, Imam Winarto akhirnya tergiur. Kemudian mengeksekusi Hj. Rowaini di rumahnya di Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan.

“Saat itu eksekutornya dijanjikan imbalan Rp 200 juta dari otak pelakunya. Namun hingga saat ini, ia baru dibayar Rp 200 ribu,” katanya menjelaskan dengan rinci. Kedua pelaku saat mengadakan pertemuan di warung makan milik tersangka Imam, AKBP Harun menyebut lokasinya tak jauh dari rumah korban yang hanya berjarak sekitar 500 meter.

“Warung makan milik tersangka Imam tak jauh dari rumah korban hanya selisih 500 meter,” jelasnya.

Bahkan, menurut tersangka eksekutor tutur AkBP Harun, pelaku juga sempat dipergoki oleh korban saat hendak menjalankan aksi kejahatanya.

“Namun lantaran keduanya sudah saling kenal, korban pun tak menaruh rasa curiga kepada Imam. Dan saat korban melihat pelaku terus ditanya sedang apa, pelaku menjawab mau menyerahkan uang,” ujarnya.

Setelah pelaku melihat korban lengah, kata AKBP Harun, tersangka langsung menusuk leher korban sebanyak tiga kali menggunakan sebilah pisau yang sudah ia persiapkan dari rumah. Setelah berhasil menghabisi nyawa korban, Imam Winarto berusaha melarikan diri. Namun aksi berhasil diendus polisi.

“Kedua pelaku ditangkap di Lamongan dan sementara ini kasusnya juga masih kita kembangkan. Atas perbuatannya kedua pelaku terancam hukuman seumur hidup atau paling singkat 20 tahun karena melakukan pembunuhan berencana,” ujarnya memandaskan. (aju/zen/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler