Connect with us

Berita

Suhandoyo: Gagal Panen Sekali Tanam, Petani Lamongan Ditaksir Rugi Hingga Rp 180 M, Serukan Petani Antisipasi Penyakit dan Hama

Diterbitkan

||

Suhandoyo Gagal Panen Sekali Tanam, Petani Lamongan Ditaksir Rugi Hingga Rp 180 M, Serukan Petani Antisipasi Penyakit dan Hama

Memontum Lamongan – Bakal calon Bupati Lamongan, Ir Suhandoyo menyebut kebutuhan dasar masyarakat Lamongan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, akan menjadi perhatian tersendiri bagi dirinya agar masyarakat menjadi sejahtera dan makmur.

Salah satunya yang paling mendesak untuk dilakukan diantaranya adalah antisipasi terhadap hama dan penyakit tanaman agar hasil pertanian tidak terjadi gagal panen.

“Saat ini, masyarakat petani sedang memulai masa tanam dan kita semua harus turut memikirkannya,” Kata Suhandoyo ketika dikonfirmasi. Senin (20/1/2020).

Tak hanya itu, Suhandoyo membeberkan ketika para petani sekali saja saat musim tanam mengalami gagal panen, maka petani se-Kabupaten Lamongan ditaksir akan mengalami kerugian sekitar Rp 180 Milliar.

“Padahal, Itupun baru dari sisi benihnya saja,” Sebutnya.

Lantas dari mana kerugian sebesar itu, tegas Handoyo, menurut hitunganya, satu hektare lahan pertanian sawah memerlukan benih padi kurang lebih 15-25 Kg. Sedangkan luas lahan pertanian sawah di Lamongan kurang lebih sekitar 87 ribu hektar.

“Dengan harga yang saya asumsikan sebesar Rp 50 ribu/Kg, maka saya hitung total kerugian masyarakat ini, dari sisi benih saja tidak kurang dari Rp 180 miliar. Ini yang perlu kita antisipasi, bahkan pemerintah harus mempersiapkan semua,” Jelasnya.

Selain itu, Suhandoyo menambahkan sebagai mengantisipasi hal tersebut diantaranya adalah dengan membasmi hama dan penyakit tanaman.

“Caranya agar tidak terjadi hama dan penyakit tanaman itulah yang harus dipersiapkan. Apakah nanti akan munculnya wereng atau hama tikus. Selain itu apakah penyakitnya kekurangan air atau terlalu penuh air, atau kapasitas lapang dalam sisi pertanian tidak terjaga dan atau dari sisi penyiangan, dan sebagainya,” Katanya.

Disisi lain kalau persoalan gulma, Suhandoyo meyakini hal tersebut bisa diselesaikan sendiri oleh para petani.

“Akan tetapi begitu ada hama penyakit dan petani menyelesaikan dengan caranya sendiri, ini justru akan merugikan petani itu sendiri,” Ucapnya.

Oleh karena itu, Tegas Handoyo, pemerintah harus mempersiapkan diri diantaranya dengan melakukan survei, penelitian yang terus menerus.

“Mulai sekarang seharusnya sudah turun para ahli, serta perlu menggunakan anggaran negara,” Pungkasnya.

Sedangkan kebutuhan dasar lain yang mendesak, Suhandoyo menandaskan, yakni para petani harus mengantisipasi terhadap kondisi banjir di musim penghujan yang masih menerjang sejumlah wilayah di Lamongan. (aju/zen/yan)

 

Terpopuler